Jusuf Kalla Bandingkan Bencana Tsunami Aceh 2004 dan Banjir di Sumatra Saat Ini: Bantuan Internasional Ditutup, Beban Pemulihan Indonesia Lebih Berat
Jakarta — Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla (JK), membandingkan penanganan bencana besar yang saat ini melanda sejumlah wilayah di Sumatra, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan tragedi Tsunami Aceh 2004.
Menurut JK, dari sisi skala kerusakan fisik, bencana banjir dan longsor yang terjadi saat ini memang tidak menghancurkan wilayah secara total seperti Tsunami Aceh dua dekade lalu.
“Bencana sekarang itu merusak, tetapi tidak menghancurkan semuanya. Berbeda dengan tsunami 2004 yang benar-benar meluluhlantakkan Aceh,” ujar Jusuf Kalla.
Meski demikian, JK menilai tantangan pemulihan pascabencana saat ini justru lebih berat, karena Indonesia tidak membuka atau tidak meminta bantuan internasional secara besar-besaran seperti yang dilakukan pada saat Tsunami Aceh 2004.
Pada bencana tsunami silam, Indonesia menerima bantuan dari puluhan negara, baik dalam bentuk dana, tenaga ahli, logistik, hingga rekonstruksi infrastruktur. Bantuan internasional tersebut sangat membantu mempercepat pemulihan Aceh yang saat itu mengalami kehancuran total.
“Dulu kita mendapat bantuan luar biasa dari dunia internasional. Sekarang, bantuan itu ditutup. Artinya, beban pemulihan sepenuhnya ada di pundak pemerintah dan masyarakat Indonesia,” tegas JK, sebagaimana dikutip dari Fajar.co.id.
JK menjelaskan, kerusakan infrastruktur seperti jembatan, jalan penghubung, fasilitas umum, dan akses distribusi logistik memerlukan biaya sangat besar dan tenaga kerja dalam jumlah masif. Tanpa dukungan internasional, seluruh pembiayaan dan proses pemulihan harus ditanggung oleh anggaran nasional dan daerah.
Kondisi ini, lanjut JK, menuntut perencanaan yang lebih matang, koordinasi lintas sektor yang kuat, serta partisipasi aktif masyarakat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana.
Sebagai Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla juga menekankan pentingnya solidaritas nasional dan kesiapsiagaan bencana, mengingat Indonesia merupakan negara rawan bencana alam.
“Kita harus semakin memperkuat ketahanan bencana, baik dari sisi infrastruktur, sistem peringatan dini, maupun kesiapan masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan JK ini menjadi pengingat bahwa meskipun skala kehancuran bencana saat ini tidak sebesar Tsunami Aceh 2004, beban pemulihan yang harus ditanggung bangsa justru lebih besar karena terbatasnya dukungan internasional.
(TIM)







